Gejala dan Penanganan Terkini Dispepsia Fungsional

Gejala dan Penanganan Terkini Dispepsia Fungsional

Dispepsia merupakan gejala atau kumpulan gejala berasal dari regio gastroduodenum yang dapat berupa nyeri epigastrium, rasa terbakar, rasa penuh setelah makan, perasaan cepat kenyang, dan lainnya termasuk rasa kembung pada area abdomen atas, mual, muntah, dan berdahak.

Keluhan dispepsia kronik dapat terjadi terus-menerus, intermiten, atau kambuhan yang dirasakan minimal 6 bulan atau lebih. 

Berdasarkan kriteria Roma III, dispepsia fungsional adalah adanya satu atau lebih dari:

  • Rasa penuh (kekenyangan) setelah makan (bothersome postprandial fullness)
  • Perasaan cepat kenyang
  • Nyeri ulu hati
  • Rasa terbakar di ulu hati
  • Tidak ditemukan kelainan struktural yang dapat menjelaskan keluhan saat dilakukan pemeriksaan endoskopi saluran cerna bagian atas (SCBA)
  • Keluhan berlangsung > 3 bulan terus menerus, atau dimulai sejak 6 bulan sebelum diagnosis ditegakkan. 

Dispepsia fungsional dibagi kedalam dua kategori diagnostik, yaitu:

  1. Postprandial distress syndrome (PDS)
  2. Epigastric Pain Syndrome (EPS)

Penyebab dispepsia fungsional bersifat multifaktorial, diduga dapat timbul karena keterlambatan pengosongan lambung, hipersensitif aferen visera terhadap zat asam dan lemak sehubungan dengan rangsang sentral maupun perifer, status inflamasi ringan, serta predisposisi genetis. 

Rangsang psikis atau emosi dapat mempengaruhi fungsi saluran cerna melalui jalur neurogenik atau jalur neurohormonal. 

  • Diagnosa ditegakkan berdasarkan klinis dan pemeriksaan endoskopi saluran cerna bagian atas

  • Rasa sakit dan tidak enak di ulu hati. Perih, mual, muntah, cepat kenyang, kembung, sering bersendawa, regurgitasi. 
  • Keluhan dirasakan umumnya berhubungan / dicetuskan dengan adanya stres, berlangsung lama dan sering kambuh. Sering disertai gejala- gejala ansietas dan depresi (misalnya dysphoric state) 
  • Evaluasi sistem kardiovaskuler, hepatobilier, ginjal, tiroid: dalam batas normal
  • Turgor kulit, berat badan
  • Laboratorium: Hb, Ht, leukosit, gula darah, faal ginjal, tes fungsi hati, urin lengkap, darah samar feses, dan pemeriksaan laboratorium lain sesuai indikasi untuk menyingkirkan diagnosis banding (misal hormon tiroid, kalsium, dsb)
  • EKG
  • Radiologi : Foto lambung dan duodenum dengan kontras
  • Pemeriksaan endoskopi bagian atas (EGD) :
  1. Pemeriksaan untuk Helicobacter Pylori
  2. Stress analyzer/ Heart rate variability untuk menilai vegetative imbalance

Diagnosis Banding

  • Dispepsia organik, misalnya ulkus peptikum, gastritis erosif, infeksi saluran cerna, GERD
  • Gangguan pada sistem hepato-bilier dan pankreas
  • Intoleransi laktosa a tau karbohidrat lain (fruktosa, sorbitol), sindrom kolon iritabel
  • Dispepsia yang disebabkan penyakit kronik seperti gagal ginjal, diabetes melitus, keganasan,dsb
  • Iskemia jantung, gagal jantung kongestif, tuberkulosis
  • Gangguan psikologis (ansietas dengan ataupun tanpa aerofagia, gangguan penyesuaian, somatisasi pada depresi, hipokondriasis)

  • Pendekatan psikosomatik terhadap aspek fisik, psikososial dan lingkungan: psikoterapi suportif dan psikoterapi perilaku
  • Pengaturan diet untuk mencegah pencetus gejala
  • Simptomatik: diberikan antasida, antagonis H2 (simetidin, ranitidin), penghambat pompa proton (omeprazol, lansoprazol) dan obat prokinetik (metoklopramid, domperidon, cisapride ).
  • Bila jelas terdapat ansietas atau depresi diberikan anti cemas atau anti depresan yang sesuai.
  • Eradikasi Helicobacter pylori bila terbukti ada infeksi penyerta.
  • Obat relaksan fundus gaster (nitrat, sildenafil (phosphodiesterase-S inibitor) dan sumartiptan ( antagoni reseptor 5-HT 1)

KOMPLIKASI

  • Dehidrasi bila muntah berlebihan
  • Gangguan gizi
  • Berat badan turun

PROGNOSIS

  • Dispepsia fungsional merupakan penyakit kronis dan keluhan dapat menyerupai gangguan gastrointestinallainnya. Pada beberapa pasien, keluhan akan tetap dirasakan 10 % kasus akan mempunyai keluhan menyerupai gangguan gastrointestinal lain, sedangkan 10% kasus akan remisi spontan. 
  • Walaupun perjalanan penyakit ini tidak stabil, tetapi hanya 2 % kasus akan berkembanga menjadi ulkus peptikum dalam 7 tahun, belum terbukti penyakit ini menyebabkan kematian. 

REFERENSI

  • Hasler, W L. Naussea, Vomiting and Indigestion. In : Kasper D L, et al ediors. Harrison’s Principal of Internal Medicine 16th ed. Me Grow-Hill Companies: 2005. p222- 223.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s